Friday, October 16, 2009

Alay? Serendah Itukah Mereka?

Huah gagal total deh yaaaa rencana gue buat no days without posting-nya. Kenyataannya takdir berkata lain tuh. Apa boleh dikata, HP tiada, laptop disergap, betapa diriku merana. Walaupun alhasil semua itu berbuah cukup ranum! Hihi yaaa seenggaknya sejauh ini UTS gue nggak ada yg remed lah. Moga-moga emang semua nilai gue lulus dengan nilai yg terbaik.

Hem kali ini, gue mau ngerespon tentang salah satu artikel blog temen gue. Blog itu belakangan ini jadi pemotivasi dan juga penghibur gue, karena isinya emang beda banget dari yg lain. Gue salut sama penulis blog itu. Isi pikirannya bener-bener outsider banget (dalam arti positif tentunya). Gue tau blog dia dari salah satu temen gue yg lainnya beberapa hari yg lalu. Waktu itu kita lagi ngomongin soal ALAY gitu kan ya gara-gara gue make gelang dari senar biola yg udah putus terus temen gue itu nganggep gaya gue ALAY (hem padahal gue rasa gelang gue itu lebih cocok disebut perwujudan dari kreatifitas gue yg jauh lebih berguna daripada gue ngebuang senar itu yg harga satuannya udah lima puluh ribuan). Terus temen gue itu jadi inget kalo ada blog salah satu temen SD gue yg pernah membahas soal ALAY yg isinya so diiiiiiiiph banget. Yang ada di pikiran gue waktu itu dengan 'so deep' adalah, paling isinya kalo nggak menghina, melecehkan, yaaaa paling tentang "betapa rendahnya mereka yg ALAY dan betapa elegannya kami yg golongan kelas satu".
Ternyata setelah malemnya gue browsing dan brusaha nyari blog temen SD gue itu lewat beberapa jaringan dan tidak lupa melewatkan fasilitas googling, perkiraan gue pada siang harinya tadi SALAH BESAR. Isi blog itu tidak membela ALAY, juga tidak mengelu-elukan pembrantasan ALAY atau apalah namanya. Melainkan dia menuliskan betapa malangnya mereka para ALAY, karena kenyataannya mereka bahkan tak tahu bahwa ada sebuah golongan yg disebut ALAY dan bahwa itu adalah kaca dari diri mereka, kata orang golongan atas. Gue setuju banget sama isi blog temen gue itu, kalo ALAY itu cuma terlambat dan tidak diberi kesempatan untuk mencicipi apa yg disebut dengan 9aH03Lz, jadi mereka hanya bisa menikmati sisa dari kealayan yg sebenarnya pernah dialami oleh sebagian besar orang golongan atas.
Emangnya apa yg salah dengan ALAY? Karena tulisan mereka? Karena gaya rambut mereka? Karena image mereka yg tidak pantas untuk berjalan-jalan di mal Jakarta dan tempat main yg cocok untuk mereka cuma sebatas di pinggiran kota? Karena mereka pergi membeli kaos-kaos dgn harga dua puluh ribu tiga, alih-alih di butik-butik terkemuka seperti tempat golongan kelas atas membeli pakaian?
Tapi gue lebih pingin membahas ALAY dari segi tulisan mereka. Kalopun yg selama ini dipermasalahkan adalah tulisan mereka, terus apa hubungannya dengan mereka yg menganggap diri mereka GAUL? Bisa bikin sakit mata? Bukannya mereka yg GAUL itu biasanya terdiri dari mereka yg latar belakang ekonominya mapan? Seharusnya Insto di apotik ato membayar jasa dokter mata bukan sesuatu yg mahal bagi mereka yg GAUL. Dan emang dampak dari tulisan mereka (baca : ALAY) yg 53pERt! iN1 benar-benar selebay itu? Bahkan tak ada penelitian yg menyebutkan bahwa retina seseorang menjadi payah gara-gara membaca tulisan ALAY.
Menurut gue pribadi, orang-orang yg merasa diri mereka GAUL dan membenci orang-orang ALAY itu hanyalah tidak ingin keluar dari zona eksklusif mereka. Mereka merasa modern karena mereka telah keluar dari zona alay yg bisa dibilang sebagai masa lalu mereka. Atau mungkin juga ada yg terbawa arus pertemanan, keluar dari zona alay dan bergabung di zona gaul dan kemudian melecehkan zona asal mereka tersebut. Dan menurut gue juga, biasanya orang-orang yg menganggap dirinya GAUL dan yg di luar sana adalah ALAY itu merupakan orang-orang yang tidak berwawasan luas. Orang yg pintar pasti memiliki urusan lain yang lebih penting daripada sekedar membenci dan memaki para alay. Kalaupun ada yg beralasan mereka nggak suka gaya alay yg sok akrab, memangnya semua bisa digeneralisasi seperti itu? Wow betapa apatisnya opini itu! Bukannya itu malah menunjukkan bahwa ALAY yg sok akrab itu jauh lebih bisa bergaul dan supel daripada orang-orang GAUL yg cenderung menutup diri dari ALAY?
Kembali ke pepatah lama yg pasti popular di semua kalangan, "Don't judge the book by its cover." Its cover itu tidak hanya berarti wajahnya yg cantik atau tampangnya yang bringasan. Menilai seseorang hanya dari segi ALAY apa tidaknya itu pun juga termasuk men-judge by its cover kan? Siapa yg bisa menjamin orang GAUL itu memiliki isi otak yg lebih berbobot daripada mereka yg dianggap ALAY? Seperti gue bilang tadi, biasanya orang-orang yg merasa GAUL itu adalah mereka yg memiliki pandangan sempit. Juga orang-orang yg suka ikut campur urusan orang lain. Orang yang mereka anggap ALAY itu bisa jadi memiliki tingkat kecerdasan dan kreatifitas yg jauh di atas mereka! Bahkan jika apa yg disebut karma itu ada, mungkin di masa depan nanti orang-orang ALAY itu akan memiliki kedudukan yg lebih tinggi daripada mereka yg GAUL. Karena pastinya orang dewasa punya urusan yg jauh lebih urgent daripada memilah-milih pegawai perusahaan berdasarkan keALAYan kan?
Pernah gue ngobrol ama temen gue dan obrolan singkat itu bisa jadi obrolan berjam-jam sama nyokap gue di rumah.
K : Gue, X : Temen 1, Y : Temen 2

X : Kir, lo mau SMA di mana?
K : TN dooong. Kalo nggak negeri lah
Y : Oh nggak nyoba Al-Azhar?
K : Nggak boleh ama nyokap. Lagian bosen gue di Al-Azhar
X : Negeri mana? Bekasi?
K : Iya lah ngapain jauh-jauh ke Jakarta
Y : Idih mending Al-Azhar ke mana-mana lah Kir daripada negeri Bekasi!
K : Kenapa emang?
X : Yaaa nanti lo gaulnya ama anak-anak alay dong...............

K : Gue, L : Temen gue
K : Eh kok lo udah gapernah main FB sih?
L : Males gue banyak alay nge-add. Jijik

K : Gue, S : Temen gue
K : Eh lo mesti tau temen gue yg namanya **** anak sekolah *** naksir ama lo!
S : Hah siapa tuh? Anak negeri Bekasi ye?
K : Haha iya tapi ganteng loh suer deh! Aduh bikin cewek-cewek klepek-klepek kayak ikan koi dikasih deterjen kalo ngeliat diaaaa
S : Alay?
K : Ya tulisannya doang paling
S : Najis! Ga sudi gue! Maluuuu

Wow dan begitu gue cerita soal itu di rumah, nyokap gue mendengus sekenceng-kencengnya. Dia bilang, "Yah gitulah kalo kelamaan berada di dalam suatu kalangan tanpa mau bergaul dengan kalangan lainnya. Justru menurut Mama yg berpendapat seperti itu yg kurang pergaulan (ATAU KUPER)." Dan setelah itu gue ama nyokap masiiiih terus membahas hal itu sampe berjam-jam. Sedangkan untuk dialog ketiga, menurut gue tipe orang yg kayak gitu adalah tipe orang yg nantinya susah dapetin cinta sejati pas tiba waktunya.

Hmmmmh jadi demikian pendapat gue mengenai mereka yang GAUL dan merasa eksklusif, juga tentang mereka yg dianggap ALAY oleh mereka yg GAUL. Terserah kalo ada pihak yg merasa tersinggung (terutama dari pihak GAUL), toh udah banyaaaaaak banget blog orang GAUL yang terang-terangan mencaci maki orang ALAY. Mulai dari menyindir gaya tulisan orang ALAY (walaupun gue pribadi jg suka melakukan ini semata-mata hanya untuk lucu-lucuan), sampe ada jg yang merasa dirinya terlalu tinggi dan menuliskan syarat-syarat orang GAUL yg bakal dia confirm sebagai teman di Facebook. Who the hell she think she is????
Oke sedangkan blog temen gue yg keren banget tiada tara dan isinya menyentuh hati semua, bisa lo cari dgn cara ngebukain link blog di sebelah kanan blog gue ini satu-satu. Kalo lo berhasil nemuin selamet deh ya. Haha tapi ga rugi deh beneran nyari inspirasi dari blog temen SD gue itu.
So see ya, PathStepers! Thanks for your attention and have awesome weekend :)

No comments: